Rahasia Ilmu Kebal

Dalam khasanah keilmuan esoterisme tradisional, ilmu kebal adalah sesuatu yang dianggap biasa, walaupun keberadaannya selalu di wilayah “grey area”, alias ada dan tiada. Ilmu kebal yang dimaksud memiliki area yang luas, mulai dari ilmu kebal fisik, yaitu kebal secara fisik terhadap senjata tajam bahkan senjata api, sampai dengan kebal secara metafisik, yaitu kebal dari niat jahat alias “ilmu selamat”.

Di sini yang akan dibahas adalah ilmu kebal fisik, khususnya kebal terhadap senjata tajam, atau senjata api dalam batasan tertentu. Karena walaupun fenomenanya ada dan tiada, tetap saja ada saksi-saksi yang menyatakan benar-benar pernah menyaksikan hal ini, sehingga cukup menarik untuk kita bahas bersama.

Sebagai catatan, selain ilmu kebal “asli”, juga sangat banyak ilmu kebal “palsu” alias ilmu kebal versi “trik” yang biasa didemonstrasikan oleh para paranormal dadakan. Biasanya trik yang paling sederhana adalah dengan membedakan ketajaman dari alat atau senjata yang akan dipergunakan sebagai demonstrasi, misal golok yang tajam di bagian ujung tapi tumpul di bagian tengah, atau silet yang tajam normal di sisi satunya dan tumpul di sisi lainnya. Salah satu contoh demonstrasi versi “trik” ini, misal dengan memotong rambut dengan silet, tentu saja dengan sisi tajam, lalu ketika diberikan ajimat tertentu (misal rajah atau batu akik), rambut tersebut menjadi tidak dapat dipotong, dan tentu saja dapat diduga bahwa pada demonstrasi kedua dapat dipastikan menggunakan sisi lainnya dari silet dimaksud. Demikian juga untuk demontrasi menggunakan golok, biasa dilakukan pemotongan batang pisang, tentu saja dengan menggunakan sisi tajam di ujung golok, dan ketika penonton yang menyaksikan sudah dalam kondisi yang tidak lagi terlalu kritis, golok dapat saja diiriskan ke leher, tanpa melukai, dan tentu saja dapat diduga, karena menggunakan sisi tengah golok yang tidak tajam sama sekali.

Bahkan dalam tradisi debus moderen yang sudah sangat komersial, jika kita jeli memperhatikan, maka sangat banyak trik yang diterapkan, karena debus tradisional sudah bergeser dari awalnya sebagai sarana syiar agama islam, menjadi debus moderen alias hiburan komersial, sehingga justru saat ini lebih mengedepankan aspek teatrikal.

Saya tidak akan membahas ilmu kebal versi “trik” terlalu jauh, karena tentu para magician (pesulap) lebih piawai untuk membahas hal ini.

***

Ilmu kebal fisik memang benar-benar ada, akan tetapi memiliki batas kemampuan tertentu, alias tidak berlaku sewenang-wenang setiap waktu dalam semua keadaan dan kondisi. Sebagai contoh jika seseorang kebal terhadap sabetan samurai, maka hal ini hanya akan berlaku sesaat, jika sabetan ini dilakukan berulang-ulang, maka kekebalan ini akan “bocor” juga pada akhirnya. Demikian juga jika seseorang kebal terhadap senjata api kaliber tertentu (misal senjata organik standar), maka kekebalan ini pasti “bocor” jika kepada yang bersangkutan ditembakkan senjata canon, atau senjata otomatik yang dapat menembakkan puluhan peluru per detiknya.

Walaupun ilmu kebal fisik memiliki batasan, juga syarat dan kondisi, akan tetapi setidaknya fenomena ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang luar biasa ini.

Apakah ilmu kebal adalah bagian dari ilmu gaib atau melibatkan entitas gaib tertentu ?

Setelah melalui pengamatan, penelitian, bahkan langsung mempelajari dari beberapa tradisi, saya berkesimpulan bahwa ilmu kebal bukan ilmu gaib, melainkan memang sebuah kemampuan yang dapat dicapai oleh setiap manusia. Sekali lagi kemampuan ini memiliki batas tertentu, alias tidak se-ekstrim yang mungkin kita bayangkan.

Ilmu kebal dari berbagai wilayah memiliki cara pembelajaran yang berbeda-beda, dengan nama tradisi yang berbeda-beda, tetapi memiliki pencapaian yang sama. Di daerah Jawa, dikenal salah satunya ilmu “Rajek Wesi”, di pesisir Sumatera dikenal ilmu Besi “Qursani” dan “Qomarullah” yang bernuansa Islami. Di perguruan Shaolin kekebalan diperoleh melalui latihan fisik dan pernafasan yang sangat keras selama bertahun-tahun. Dan masih banyak lagi tradisi lainnya, apalagi di bumi Nusantara yang merupakan gudangnya tradisi esoterisme.

Tentu sangat menarik untuk diamati, karena dari berbagai tradisi ilmu kebal yang sangat berbeda-beda ini menghasilkan efek yang sama, yaitu kekebalan fisik. Apakah benang merahnya ?

Dari sudut pandang esoterisme moderen, manusia memiliki kemampuan untuk membangkitkan Subtle Energy atau “chi” yang bersifat sebagai besi, sehingga sesaat dapat menjadi perisai yang melekat di kulit manusia. Perisai “chi” ini sedemikian kuatnya sehingga memunculkan fenomena kekebalan sesaat. Kenapa hanya sesaat ? Ya, karena kualitas perisai ini sangat dipengaruhi oleh “State of Mind” dari praktisi keilmuan ini. Seperti yang kita maklumi bersama, bahwa sangat tidak mudah untuk menjaga “State of Mind” tertentu dalam keadaan stabil, apalagi dengan berbagai gangguan eksternal di kehidupan nyata.

Dari penjelasan ini, dapat kita pahami bahwa berbagai tradisi adalah sekedar suatu metodologi untuk memunculkan “chi” besi ini, dan tentu saja setiap tradisi akan sesuai dengan kognitif dari suatu kelompok masyarakat tertentu, dan mungkin tidak berlaku untuk kelompok masyarakat lainnya.

Dari penjelasan ini pula dapat kita maklumi bahwa walaupun fenomena ilmu kebal ini benar adanya, akan tetapi tidak dapat dipergunakan secara sewenang-wenang, misalkan dalam peperangan frontal. Sehingga dalam peperangan fisik, selalu pihak yang memiliki senjata lebih moderen dan strategi perang yang lebih baik yang akan memperoleh kemenangan. Sekali lagi jawabannya adalah tidak mudah untuk memelihara kestabilan “State of Mind” dari ilmu kebal.

***

by: Yan Nurindra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.