Cara Mengendalikan Emosi

Mungkin kita sering mendengar orang memberikan nasehat agar kita selalu mampu mengendalikan emosi.  Tetapi seringkali juga kita tidak mendapatkan cara bagaimana cara mengendalikan emosi, dan kita kurang memahami mengapa kita harus mengendalikannya.

Jadi, ada dua pertanyaan tentang mengelola emosi, yaitu :

  1. Mengapa kita perlu mengendalikan emosi?
  2. Bagaimana cara mengendalikannya ?

Emosi merupakan respon tubuh dan pikiran atas sesuatu yang menjadi trigernya.  Misalnya kita akan mengalami emosi marah saat ada suatu peristiwa atau situasi yang dianggap merugikan, atau tindakan-tindakan yang dianggap tidak layak terhadap diri kita.  Kita mengalami emosi takut saat ada sesuatu yang dianggap mengancam diri kita. 

Emosi merupakan bagian yang penting dalam kehidupan keseharian kita.  Kita mengalami berbagai emosi yang silih berganti sesuai dengan apa yang kita temui, kita dapati, atau jalani.  Kita bisa senang saat menerima kabar tertentu, marah dan frustrasi dalam kemacetan lalu-lintas yang parah, dan sebagainya.  Kesemua itu tentunya sangat berperan dalam mempengaruhi tingkat kebahagiaan kita.

Karena emosi merupakan reaksi tubuh dan pikiran, maka emosi bukan hanya mempengaruhi perasaan dan kebahagiaan kita, dia juga dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan diri kita baik fisik maupun mental.  Telah banyak diketahui bahwa ternyata gangguan-gangguan dan ketidakmampuan mengelola emosi dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada diri kita, misalnya gangguan-gangguan pada sistem peredaran darah hingga penyakit yang sangat serius seperti stroke dan kanker.  Selain itu, masalah-masalah emosional yang kita miliki juga berpengaruh dalam hubungan kita dengan orang-orang di sekitar.  Ketidakmampuan kita mengelola emosi bisa menjadi suatu gangguan dalam menjalin hubungan, serta mempengaruhi penilaian orang lain terhadap diri kita.

Itulah sebabnya mengapa emosi perlu dikendalikan, dan kemampuan untuk mengendalikan emosi menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kita kuasai.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan emosi-emosi yang tidak kita inginkan ?

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengendalikan emosi, yang merupakan langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk mempengaruhi kemunculan emosi serta bagaimana kita mengekspresikan emosi kita.  Salah satunya adalah seperti yang dikemukakan oleh psikolog dari Stanford University, James Gross (2001) yang mengajukan 4 tingkatan model untuk menangkap urutan kejadian yang muncul saat emosi kita terpicu.  Menurutnya, sebuah situasi yang menarik perhatian kita pada gilirannya akan membuat kita menilai atau berpikir tentang arti dari situasi tersebut.  Reaksi emosional kita merupakan hasil dari cara kita menilai situasi atau peristiwa-peristiwa yang kita alami.

Tentu saja tidak semua emosi yang muncul memerlukan pengaturan-pengaturan tertentu.  Jika emosi itu memang sesuai dengan situasinya dan justeru dapat membuat kita merasa lebih baik, maka tidak ada hal yang perlu kita khawatirkan.  Misalnya kita ikut tertawa saat orang lain tertawa merupakan cara yang sesuai yang dapat membantu kita merasa lebih baik.  Mengekspresikan kemarahan kita di jalan juga dapat membuat kita merasa lebih baik, tetapi tentu saja itu buka merupakan cara yang tepat.  Kita dapat mengungkapkan rasa frustrasi kita dengan cara lain yang membuat kita dapat melepaskan kemarahan atau kita bisa lebih memilih cara untuk menenangkan diri.

Kita dapat melakukan langkah-langkah dalam pengendalian emosi dengan baik bahkan sebelum situasi yang memperburuknya terjadi, yaitu dengan mempersiapkan diri kita menghadapinya.  Kita dapat meredakan persoalan-persoalan emosional kita melalui cara-cara yang kita lakukan sebelum memberikan dampak buruk bagi kehidupan kita :

  1. Memilih Situasi. Artinya kita menghindari lingkungan atau situasi-situasi yang dapat memicu munculnya emosi-emosi yang tidak kita inginkan.  Jika kita mudah menjadi marah saat kita dalam kondisi yang tergesa-gesa, maka kita dapat mengatur waktu  sehingga kita tidak mesti tergesa-gesa.  Misalnya saat berangkat kerja kita bisa memulainya lebih awal dari yang semestinya kita lakukan, sehingga kita tidak akan merasa terganggu dengan jalanan yang kurang lancar atau kendaraan yang kita tumpangi berjalan lebih lambat.   Atau misalnya ada seorang kenalan yang kita anggap menjengkelkan, maka kita bisa mencari cara agar kita tidak bertemu atau berada lebih lama bersamanya.
  1. Mengubah Situasi. Adakalanya kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan dan itu membuat kita merasa kecewa karenanya.  Kita dapat mencari atau melakukan hal lain yang dapat memberikan kesenangan.  Sekalipun itu bukan sesuatu yang benar-benar kita inginkan, kita masih dapat mengobati kekecewaan kita.  Misalnya saat kita gagal pergi ke suatu tempat favorit yang menjadi tujuan kita, maka kita bisa pergi ke tempat lain yang juga memberikan kesenangan.  Sekalipun itu bukan tempat yang ideal bagi kita, setidaknya kita bisa tetap merasakan kesenangannya.
  1. Mengalihkan Fokus Perhatian. Katakanlah kita selalu mengalami perasaan kalah saat menyaksikan orang dengan kemampuan yang lebih baik dari kita.  Perhatian kita selalu terfokus padanya dan kita terpesona oleh kemampuannya sambil merasa iri atau rendah diri karenanya.  Maka kita bisa mengalihkan fokus kita kepada orang-orang yang memiliki kemampuan lebih rendah dari kita sehingga kita merasa lebih percaya diri dengan kemampuan kita.  Lebih baik lagi jika kita fokus saja pada usaha-usaha dan proses kita dalam meningkatkan kemampuan, dan kita yakin bahwa suatu saat kita akan memiliki kemampuan seperti yang kita inginkan.
  1. Mengubah Cara Berpikir. Akar dari emosi-emosi terdalam adalah kepercayaan (belief) yang ada pada kita yang mendorong kemunculannya.  Kita merasa sedih saat kita percaya kita telah kehilangan sesuatu, kita marah saat kita menilai bahwa sesuatu yang penting yang kita tuju  itu terhalangi, dan dengan senang berharap saat kita percaya bahwa sesuatu yang baik akan datang pada kita.  Mengubah pikiran kita memang tidak bisa mengubah situasi tetapi setidaknya kita dapat mengubah nilai atas sesuatu yang mempengaruhi kita.  Kita mengubah pikiran yang membuat kita merasa tidak senang dan menggantinya dengan pikiran yang mendorong kita merasa gembira atau setidaknya merasa puas atas apa yang ada.  Orang-orang dengan kecemasan sosial mungkin percaya bahwa mereka akan mempermalukan diri mereka di depan orang lain atas kesalahan yang dilakukan.  Mereka bisa ditenangkan dengan membantunya menyadari bahwa orang-orang tidak akan menilai mereka sekasar atau sekeras yang mereka percaya.
  1. Mengubah Respon. Apabila upaya-upaya untuk menghindari, mengubah, mengalihkan fokus perhatian atau mengubah pikiran tidak berhasil, dan emosi muncul serta meningkat, maka langkah terakhir adalah dengan mengendalikan respon terhadap emosi tersebut.  Jantung kita mungkin berdetak lebih keras dan kita merasakan sensasi-sensasi tidak menyenangkan saat kita gelisah atau marah.  Kita bisa mengendalikannya dengan melakukan pernafasan dalam atau bahkan menutup mata dalam upaya menenangkan diri.  Sebaliknya, saat kita tidak bisa berhenti tertawa saat orang lain terlihat serius atau sedih, kita bisa mengumpulkan kemampuan dan sumberdaya dalam diri kita dan memaksa setidaknya mengubah ekspresi wajah jika  tidak bisa mengubah mood kita.

Langkah-langkah tersebut merupakan salah satu pendekatan yang bisa dilakukan.  Mengetahui apa yang menjadi pemicu dari emosi-emosi kita merupakan langkah awal yang dapat membantu untuk menghindarkan diri dari masalah-masalah yang ditimbulkan oleh emosi-emosi kita.  Memiliki kemampuan untuk mengalihkan pikiran dan reaksi akan membangun kepercayaan atas kemampuan diri menghadapinya.  Dengan terus berlatih kita akan semakin mampu untuk mengubah yang negatif menjadi positif serta mendapatkan kepuasan emosional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.